Mengenal Tiga Nama Jabal Nur

Gua Hira
Jabal Nur

Jabal Nur atau “gunung cahaya” terletak di dekat kota mekkah yang menjadi salah satu tempat paling istimewa sehingga sering dikunjungi oleh jemaah asal Indonesia. Di gunung ini terdapat gua kecil yang dikenal sebagai Gua Hira tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah melalui Malaikat Jibril. Jemaah disarankan agar mengenal tiga nama Jabal Nur agar ziarah religi ke Gua Hira semakin semangat mengunjungi tempat di mana Rasulullah SAW berkhalwat.

Mengenal Tiga Nama Jabal Nur

Jabal Nur adalah salah satu situs yang paling bersejarah dalam Islam. Dari kejahuan gunung ini terlihat tandus berwarna hitam kecoklatan.

Read More

Gunung ini memiliki tiga nama, yaitu Jabal Al-Quran, Jabal Islam dan Jabal Nur. Sebutan Jabal Al-quran karena Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu Al-Quran di gunung ini, yaitu QS Al-Alaq ayat 1-5 yang disampaikan oleh Malaikat Jibril.

Dikisahkan, Nabi Muhammad melakukan khalwat di Gua Hira (menyendiri untuk beribadah dan merenung) berangkat dari kegelisahan Nabi akan budaya jahiliyah dan menyembah berhala dan budaya-budaya jahiliyah lainnya.

Pada usia 40 tahun, tepatnya pada Ramadan, Nabi berkhalwat dan pertama kali didatangi oleh Malaikat Jibril. “Nabi dijumpai Malaikat pertama kali lewat mimpi. Setelah itu, Nabi bangun, dan memang benar, Jibril meminta Muhammad untuk membaca ‘iqra’. Tapi Nabi menjawab “Maa aqraa? (apa yang harus saya baca?’ Sampai Malaikat Jibril membimbingnya tiga kali. “Baca, tapi jangan baca dengan diri kamu sebagai manusia,”

Kemudian turun QS Al-Alaq 1-5 yang bermakna bahwa bacalah dengan atas nama TuhanMu. Tuhan itu yang mengusai dan menciptakan kamu manusia.

Jabal Islam

Berangkat dari Gua Hira, awal mula agama Islam lahir dan merahmati semua dunia. Agama Islam menjadi agama peradaban, khususnya peradaban bangsa Quraisy yang dalam kondisi jahiliyah waktu itu.

Jabal Nur

Disebut Jabal Nur, yang artinya Gunung Cahaya. Cahaya Islam yang tersebar ke seluruh penjuru dunia. “Dari tempat ini lah, tersebar cahaya ke seluruh dunia

Kenapa Gua Hira ?

Mungkin ada yang bertanya. Apa alasan baginda Nabi memilih Gua Hira sebagai tempat khalwat? Bukankah banyak tempat-tempat lain selain di Gua itu? Imam Abdul Hamid as-Syarwani menyampaikan alasan di balik ini. Alasannya amat sederhana, tapi tidak banyak orang mengetahuinya. Dalam Hasyiyah as-Syarwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj (jiz 1, hal. 417) ia menulis;

“Sebelum mendapat kewajian salat fardu, baginda Nabi berkhalwat di Gua Hira, di sana beliau bertafakur tentang makhluk-makhluk ciptaan Allah, selain itu juga memuliakan orang-orang yang melintasi sekitaran Gua Hira, dan Rasulullah mengkhususkan waktu malamnya untuk beribadah di sana. Alasan Raslulullah tidak memilih tempat lain, adalah karena Gua Hira berada di posisi yang sejajar dengan Ka’bah, dan baginda Nabi sangat girang melihat Ka’bah. Dari ini, sesungguhnya para umatnya dikenai kewajiban salat malam. Namun. Seiring berjalan waktu kewajiban itu dihapus dan diganti dengan kewajiban salat fardu, ibadah lahir yang mulia. Daripada salat fardu-yang tergolong ibadah lahir-jauh lebih mulia ibadah-ibadah batin, seperti tafakur, sabar, menerima takdir dengan lapang dada, dan seterusnya. Dalam sebuah keterangan disebutkan, ‘Berpikir sejenak lebih baik daripada beribadah 60 tahun’. Dibandingkan semuanya, iman tetap menduduki pangkat tertinggi.”

Posisinya Sejajar dengan Ka’bah

Jadi, alasan mendasar Rasulullah memilih Gua Hira menjadi tempat khalwat saat hendak menyambut kejadian-kejadian besar adalah karena posisinya yang sejajar dengan Ka’bah, dan melihat Ka’bah adalah hal yang paling baginda Nabi sukai. Sebagai keturunan Ibrahim serta penerus profesinya, tentu menyukai buah tangan leluhurnya. Rasa suka itulah yang membuat seseorang selalu nikmat melakukan apapun.

Related posts